
LENSATENGGARA.COM – Sebuah video yang beredar luas di media sosial memicu kemarahan publik setelah menampilkan tindakan tidak pantas seorang perempuan dewasa terhadap seekor mamalia air yang diduga kuat merupakan Pesut Mahakam. Satwa tersebut terlihat diperlakukan layaknya mainan, bahkan seolah diajak berjoget dalam rekaman yang viral di berbagai platform, khususnya TikTok.
Pesut Mahakam atau *Orcaella brevirostris* merupakan mamalia air tawar langka yang masih satu keluarga dengan lumba-lumba. Spesies endemik ini hanya hidup di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, dan saat ini populasinya terus menyusut hingga berada pada kondisi sangat terancam punah.
Dalam video tersebut, pesut tampak diangkat dan dipegang tanpa menunjukkan respons. Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa satwa tersebut sudah dalam keadaan mati. Aksi tersebut langsung menuai kecaman luas dari warganet karena dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap satwa dilindungi.
Sebagaimana namanya, Pesut Mahakam bukanlah hewan air biasa. Keberadaannya sangat terbatas dan menjadi simbol penting ekosistem Sungai Mahakam. Hingga kini, lokasi pasti pengambilan video serta kondisi sebenarnya dari pesut yang terekam masih belum dipastikan oleh pihak berwenang.
Reaksi keras datang dari masyarakat yang mendesak aparat untuk mengusut dan menindak pelaku. Berdasarkan berbagai catatan konservasi, populasi pesut di Sungai Mahakam diperkirakan hanya tersisa sekitar enam puluhan ekor di alam bebas. Spesies ini telah masuk dalam daftar satwa yang dilindungi secara nasional maupun internasional.
Pemerintah bersama sejumlah organisasi konservasi selama ini terus melakukan berbagai upaya perlindungan, mulai dari menjaga habitat alami pesut hingga mengurangi ancaman seperti pencemaran perairan, tabrakan kapal, serta aktivitas penangkapan ikan yang berisiko.
Dilansir dari detik.com, Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Muda di Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Andrian Saputra, menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan penelusuran terkait asal video tersebut.
“Kami sedang menelusuri, dari penelusuran terakhir akun tersebut ada di Merangin, Jambi,” jelasnya.
Diketahui, selain di pesisir Sumatera, kemunculan finless porpoise juga pernah tercatat di wilayah perairan Kalimantan, termasuk Teluk Balikpapan.
“Berdasarkan data keterdamparan yang ada tercatat di kami, (pernah) terdampar di pesisir Kabupaten Ketapang pada bulan Oktober 2022 dan di pesisir Singkawang – Kalimantan Barat pada Juni 2025, dan pernah juga ditemukan mati di perairan Teluk Balikpapan,” pungkasnya.
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya kesadaran publik dalam menjaga dan menghormati keberadaan satwa langka yang dilindungi, agar tidak semakin terancam punah. (*)



























