
LENSATENGGARA.COM, KENDARI – Pelatihan jurnalisme warga yang diikuti masyarakat lingkar tambang dan korban penggusuran lahan dari sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara (Sultra) digelar di salah satu hotel di Kota Kendari. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sultra selama dua hari, mulai Jumat (15/5/2026).
Pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam menyampaikan informasi terkait persoalan lingkungan, konflik agraria, hingga dampak aktivitas industri tambang dan perkebunan sawit yang terjadi di berbagai daerah di Sultra.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Kendari, Nursadah mengatakan, pesatnya aktivitas industri ekstraktif di Sultra memunculkan banyak persoalan yang penting diketahui publik. Namun, sejumlah isu kerap luput dari pemberitaan media arus utama karena keterbatasan akses di lapangan.
Menurutnya, masyarakat yang berada langsung di wilayah terdampak memiliki posisi strategis untuk menyampaikan informasi kepada publik. Karena itu, pemahaman mengenai jurnalisme warga menjadi penting agar informasi yang disampaikan tetap memenuhi standar jurnalistik.
“Perlu diketahui bahwa kerja-kerja jurnalisme warga juga dituntut untuk tetap taat kode etik jurnalistik. Informasi yang disampaikan adalah kebenaran dan sesuai fakta, sehingga tidak memicu hoax yang dapat menimbulkan masalah bagi jurnalis warga itu sendiri,” kata Nursadah.
Salah satu pemateri pelatihan, dosen jurnalistik Universitas Halu Oleo, Jufri Rachim menjelaskan, perkembangan teknologi saat ini membuat akses informasi semakin terbuka luas. Meski demikian, masyarakat tetap perlu memahami prinsip dasar jurnalistik agar informasi yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan.
“Dengan memahami jurnalisme warga, kita dapat memastikan bahwa setiap informasi yang kita sampaikan itu adalah kebenaran dan fakta, bukan opini,” ujar Jufri.
Pemateri lainnya, jurnalis CNN Indonesia, Zainal Izhak menekankan pentingnya kemampuan warga dalam mengenali isu yang layak diberitakan. Selain itu, teknik wawancara hingga pengambilan gambar juga menjadi bagian penting dalam proses peliputan.
“Begitu pun teknik wawancara hingga pengambilan gambar yang baik juga harus benar-benar dipahami,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sultra, Andi Rahman berharap pelatihan tersebut dapat membantu masyarakat memahami dasar-dasar peliputan dan dokumentasi yang sesuai dengan kode etik jurnalistik.
“WALHI berkolaborasi dengan AJI mengadakan pelatihan ini untuk memperkuat kapasitas masyarakat agar bisa melaporkan kondisi, mendokumentasikan pelanggaran HAM atau kerusakan lingkungan yang dihadapi, karena tantangan kita selama ini sering kali lalai didokumentasi,” ucap Andi Rahman.
Salah seorang peserta, Nurjayah mengaku pelatihan tersebut membuat dirinya lebih memahami cara menyampaikan informasi secara tepat dan aman secara hukum. Ia menilai pemahaman tentang teknik wawancara, pengumpulan data, dokumentasi hingga penulisan berita sangat penting, terutama saat berhadapan dengan perusahaan yang diduga melakukan pelanggaran HAM maupun merusak lingkungan.
“Sebelumnya kami tidak tahu perlindungan hukumnya bagaimana ke depannya karena saya warga, bukan jurnalis, tapi setelah tahu ini kami jadi lebih berhati-hati lagi menyampaikan informasi agar tidak terjerat hukum,” kata Nurjayah.
Peserta lainnya, Azis juga menilai pelatihan tersebut memberikan pemahaman dasar baginya untuk menyuarakan dampak kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah tempat tinggalnya.























