Selasa, April 14, 2026
LensaTenggara.com
Beranda Nasional BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus

BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus

10
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus
Ilustrasi

LENSATENGGARA.COM, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 akan datang lebih cepat dari biasanya. Berdasarkan prediksi, kemarau mulai terjadi pada periode April hingga Juni 2026 di sebagian besar wilayah Tanah Air.

Dikutip dari Kompas.com, Ketua BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa percepatan musim kemarau ini akan terjadi di hampir setengah zona musim di Indonesia.

“Secara umum hampir 50 persen dari zona musim di Indonesia itu memasuki kemarau lebih cepat ya, lebih cepat di bulan April kira-kira,” ujarnya, Senin (14/4/2026).

Ia menambahkan, puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus 2026, dengan sejumlah daerah berpotensi mengalami kekeringan.

“Nantinya puncak dari musim kemarau itu di bulan Agustus, ya dominan yang paling banyak daerah di Indonesia itu puncaknya di Agustus,” ujar Faisal.

Masih dikutip dari Kompas.com, Faisal menyebut bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi menjadi yang terpanjang dalam tiga dekade terakhir. Kondisi tersebut dipicu oleh datangnya musim kemarau yang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis.

BACA JUGA :  Gempa Bumi Magnitudo 4,2 Guncang Wilayah Rarowatu, Bombana

“Sehingga nantinya musim kemarau di Indonesia datangnya sedikit lebih cepat, sehingga dia lebih panjang dan dibanding dengan rerata klimatologisnya selama 30 tahun terakhir, dia lebih kering,” ujar Faisal.

Mengantisipasi dampak yang ditimbulkan, BMKG mengimbau pemerintah untuk meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya dalam menghadapi potensi kekeringan yang umumnya terjadi di wilayah selatan Khatulistiwa.

“Ini yang kita coba untuk meningkatkan kesiapsiagaan kita semua, kita mitigasi agar pemerintah ya semuanya siap untuk dapat menghindari atau mengurangi terjadinya kekeringan,” ujar Faisal.

Selain itu, BMKG juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di sejumlah wilayah. Enam provinsi disebut menjadi daerah yang paling rentan terdampak.

“Nanti untuk Karhutla sendiri ada enam provinsi yang paling terpengaruh mulai dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan, kemudian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Selatan. Nah ini enam provinsi,” ujar Faisal.

BACA JUGA :  6 Daerah di Sultra Berpotensi Dilanda Kekeringan Ekstrem

Meski kemarau diprediksi berlangsung lebih panjang, Faisal menjelaskan bahwa hujan masih mungkin terjadi, namun dengan intensitas yang relatif rendah.

“Jadi apakah musim kemarau akan ada hujan? Ya, hujan kemungkinan juga akan ada gitu, tapi tidak lebih dari 150 milimeter per bulan,” ujar Faisal.

Ia juga mengingatkan bahwa waktu masuk musim kemarau di setiap wilayah tidak akan sama, mengingat Indonesia memiliki ratusan zona musim dengan karakteristik yang berbeda.

“Perlu dicatat nanti ada yang konfirmasi, ‘Loh ini di sini masih hujan?’ Iya, karena ada yang masuknya di bulan April musim kemaraunya, terutama saya sebut tadi bagian NTT, NTB, Bali, lalu ada yang masuknya nanti bulan Mei nanti daerah-daerah yang lain,” ujar Faisal.

“Kita punya 699 zona musim dan itu akan masuk berbeda-beda karena banyak kondisinya terkait dengan atmosfer global, kemudian kondisi lokal, geografis dan lain sebagainya,” sambungnya.